Sabtu, 13 Desember 2025 - 18:54
Outlook Perbankan Syariah Indonesia 2026
Oleh : Presiden Direktur Iqtishad Consulting Indonesia
Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5,28 % pada 2026, lebih tinggi dari 2025, dengan inflasi terkendali dan BI Rate diperkirakan turun ke sekitar 4,25 %. Kondisi makro yang stabil menciptakan ruang pertumbuhan pembiayaan dan penghimpunan dana bagi bank syariah.
Data terbaru menunjukkan pembiayaan perbankan syariah terus meningkat, dengan beberapa bank syariah mencatat pertumbuhan pembiayaan kuat di 2025, unggul dibanding sektor perbankan konvensional.
Di tingkat regional dan nasional, pembiayaan syariah terus bertumbuh dengan NPF rendah, menunjukkan kualitas aset yang terjaga.
Peluang Pangsa Pasar (market share)
Market share perbankan syariah di Indonesia masih relatif rendah (sekitar 7–8 %), Saat ini, Juni 2025 masih 7,4 %.
IAEI, dan asosiasi serta pelaku industri menargetkan peningkatan signifikan hingga ~20 % dalam beberapa tahun ke depan.
Peluang pertumbuhan tinggi bank syariah melalui pembiayaan UMKM dan halal value chai menjadi priorotas utama
Fokus pengembangan pembiayaan produk industri halal, penetrasi UMKM, digitalisasi, dan ekosistem ekonomi syariah dapat mempercepat pertumbuhan perbankan syariah
Fokus Strategis
1. Fokus strategis perbankan syariah adalah transformasi digitalisasi dan peningkatan inklusi keuangan syariah yang masih rendah (12 %), Trasformasi digital akan membuka akses pembiayaan dan tabungan syariah ke segmen lebih luas.
2. Ekosistem ekonomi halal – sinergi dengan sektor halal lain (seperti halal lifestyle, pariwisata, halal supply chain).
3. Produk inovatif seperti pembiayaan trade finance hybrid L/C, Ijarah Maushufh fi Zimmah (IMFZ), Inovasi produk bank emas (bullion bank), pembiayaan berbasis aset seperti MMQ (Musyarakah Mutanaqishah) untuk belasan produk inovatif, Bay’ wal Istikjar, Inovasi Pembiayaan SCF (Supply Chain Financing dengan salam dan istishna’ ) sukuk ritel, dan integrasi dengan fintech syariah.
4. Selanjutnya Bank syariah harus meningkatkan efisiensi operasional melalui konsolidasi, cloud core banking, dan manajemen risiko syariah berbasis data.
Tantangan yang Harus Diantisipasi
Tantangan Internal
Pertama, Peningkatan kompentesi dan kapabilitas SDM syariah yang unggul dan profesional yang adaptif dengan teknologi,khususnya teknologi digital. Penguatan SDM Syariah juga perlu dari sisi kompetensi syariah melalui pendidikan fiqih muamalah kontemporer di lembga Iqtshad Consuting Indoenesia, sertifikasi profesi syariah, dan kolaborasi dengan lembaga -lembaga internasional
Kedua, Skala usaha yang relatif kecil dibandingkan bank konvensional — perlu konsolidasi dan sinergi untuk efisiensi.
Ketiga, Literasi keuangan syariah masih perlu ditingkatkan agar masyarakat memahami keunggulan dan karakter produk syariah.
Keempat, Penguatan risk management yang selaras dengan prinsip syariah dan standar internasional. Karena itu, Dewan Direksi, Pincab, dan Head Group terkait, tidak cukup hanya mengikuti sertifikasi ilevel 7 tetapi harus mengikuti pelatihan dan sertifikasi level 8 yang sudah lama dikembangkan Lembaga diklat terinovatif dunia, yaitu Iqtishad Consuting.
Kelima, inovasi produk yang makin diperlukan sebagaimana dipaparkan di atas, Keenam, harmonisasi hukum fikih muamalah dengan hukum positif pada 15 produk unggulan bank syariah, termasuk akselerasi fatwa dan Harmonisasi Regulasi untuk memastikan inovasi industry perbankan dan keuangan tidak terhambat oleh ketidaksinkronan regulasi dan atau tidak sharia compliance
Tantangan Eksternal
Persaingan dengan perbankan konvensional tetap kuat, terutama pada produk komersial dan layanan korporasi. Margin bank syariah harus tetap kompetitif, kemampuan inovasi produk, serta literasi masyarakat yang perlu ditingkatkan, layanan digital yang makin inovatif dan memudahkan.
Faktor global seperti dinamika geopolitik dan suku bunga dunia dapat mempengaruhi aliran modal dan permintaan pembiayaan.
Bank bank syariah harus masuk ke pembiayaan produktif: UMKM halal, pertanian, logistik, renewable energy, sektor pangan, manufaktur dan corporate lainnya
Kesimpulan Outlook 2026
Tahun 2026 diprediksi menjadi fase akselerasi bagi ekosistem ekonomi syariah Indonesia. Berbagai indikator menunjukkan pergeseran dari penguatan dasar menuju lompatan transformasi berbasis digital, integrasi ekosistem, dan penguatan kelembagaan.
2026 menjadi tahun penting untuk memperkuat value proposition bank syariah di Indonesia.
Transformasi digital diprediksi menjadi kunci akselerasi 2026, termasuk integrasi AI, open banking, dan ekosistem syariah berbasis platform.
Momentum pertumbuhan ekonomi, dukungan regulator, dan peluang pasar yang besar memberikan outlook positif untuk perbankan syariah 2026 — dengan ruang signifikan untuk memperluas pangsa pasar, digitalisasi, dan inovasi produk.