Banner Static

Selasa, 22 September 2015 - 20:23


Seminar Ekonomi Syariah di Vatikan, Roma

Seminar Ekonomi Syariah digelar di Vatikan Roma, 15 Mei 2015,  kerjasama Dewan KEPAUSAN, Kedutaan RI dan Univ Angelicom,Roma.Maka Dakwah Ekonomi Syariah masuk ke Jantung Agama Khatolik. Pembicara dari Indonesia Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah. Dr. Muliaman Hadad yang merupakan Ketua OJK, Selain  Bapak Muliaman, juga  Dr. Halim Alamsyah (Ketua Forum Komunikasi Ekonomi Syariah, dan DG Bank Indonesia serta M.Syafi'i Antonio, Tazkia). Sedangkan Pembicara dari Vatikan 3 Orang, yaitu dari Unsur Takhta Suci Vatikan, adalah Ketua Dewan KEPAUSAN,Kardinal Peter K.Turkson, Pembicara Kedua Suster Helen Alford. Guru Besar Etika Ekonomi Universitas Angelicum, serta Suster Alessandra Smerilli, dari Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Angelicum, Vatikan. Dialog Ekonomi Islam dan Kristen Khatolik di Vatikan ini adalah babak baru untuk membangun tata Ekonomi yang berkeadilan untuk meningkatkan kesejahteraan (mengentaskan kemsikinan dan ketimpangan pendapatan)

Pada Seminar itu mengemuka pandanganm bahwa praktik ekonomi global semakin individual dan serakah. Hal itu menyebabkan ketidakadilan ekonomi makin semakin meningkat. Untuk itu, dialog antaragama, termasuk Islam-Kristen, perlu dikembangkan guna mengatasi ketimpangan ekonomi tersebut.

Hal tersebut menjadi  perhatian utama  dalam Konferensi “Etika Ekonomi dan Bisnis dalam Kristen dan Islam”, di Aula Minor Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas atau Universitas Angelicum di Roma, Italia, Jumat (15/5).

WartawanKompas,Subur Tjahjono, dari Roma melaporkan, konferensi tersebut merupakan hasil kerja sama Kedutaan Besar Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan, Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, serta Fakultas Ilmu Sosial Universitas Angelicum.

Pembicara dari Indonesia adalah Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad, Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah, dan Ketua Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia Sentul City Bogor M Syafii Antonio.

Pembicara dari Takhta Suci Vatikan adalah Ketua Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian Kardinal Peter K Turkson, Guru Besar Etika Ekonomi Universitas Angelicum Suster Helen Alford, serta dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Angelicum Suster Alessandra Smerilli.

Konferensi dibuka Duta Besar Indonesia untuk Vatikan Budiarman Bahar dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Angelicum Pastor Alejandro Crosthwaite.

Budjarman mengatakan, kegiatan ini dilatarbelakangi kesamaan pemikiran Katolik dan Islam memandang ekonomi yang belum merata bagi orang miskin. Ketimpangan antara orang kaya dan miskin makin lebar. Pemikiran keagamaan seharusnya merespons masalah dengan memberikan landasan moral pada praktik ekonomi dan bisnis. Dalam praktik, sejumlah lembaga swadaya masyarakat tumbuh untuk menerapkan ekonomi yang lebih berkeadilan. Contohnya adalah Focolare dan Compagnia delle Opere yang memberikan pendekatan baru dalam ekonomi dengan spirit Katolik. “Focolare misalnya mendorong keuntungan perusahaan sepertiga untuk orang miskin,” kata Budiarman

Ekonomi syariah

Mulaiman D Hadad memberi contoh implementasiekonomi syariah di Indonesia. Walaupun baru di terapkan tahu 1992, ekonomi syariah telah berkembang cukup pesat. Pertumbuhan sukuk 2009-2013 mencapai 29 persen per tahun. Pada tahun 2014 pangsa pasarnya 9,42 persen dibandingkan obligasi jenis lain. Pertumbuhan aset perbankan syariah pada kurun waktu yang sama 37 persen. Pangsa pasarnya 4,8 persen, tetapi masih kecil jika dibandingkan dengan malaysia yang 20 persen atau Arab saudi yang mencapai 53 persen. Pertumbuhan pembiayaan syariah bahkan mencapai 149 persen tahun 2009-2013. Investasi pada pembiayaan syariah mencapai 66,5 persen dari total investasi pembiayaan.

Belum lagi kalau memasukkan dana syariah yang potensial. Dana potensial itu misalnya dana haji, yang tahun 2013 senilai Rp64,5 triliun. Selain itu, dana zakat tahun 2013 senilai Rp50,74 miliar serta tanah wakaf seluas 116 juta meter persegi.

Sekaranga ada sejumlah kemajuan yang dicapai oleh ekonomi syariah, seperti Indonesia memiliki jumlah lembaga keuangan syariah terbesar di dunia. “Indonesia juga mempunyai sukuk ritel satu-satunya di dunia,” ujar Muliaman. Selain itu, Indonesia adalah negara pertama di dunia yang menerapkan dagangan daring, dengan nama Jakarta Islamic Index.

Namun, tantangannya adalah akses masyarakat terhadap jasa keungan yang masih kecil di Indonesia. Indeks Literasi Keuangan Indonesia yang mengerti keuangan formal. “Hal ini menjadi tugas Otoritas Jasa Keungan untuk terus meningkatkan literasi keuangan ini melalui program inklusi keuangan,” kata Muliaman.

Meskipun ekonomi syariah berkembang pesat, Muliaman mengatakan, “Indonesia mendukung upaya bersama kerja sama dan kolaborasi untuk mengatasi ketidak aslian ekonomi.”

Soal perlunya kerja sama tersebut sebelumnya dikemukakan Peter K Turkson yang mengajak perlunya dialog, seperti didorong Paus Fransiskus, pemimpin umat katolik sedunia. “Dialog antar agama, seperti kristen dan islam, perlu didorong dalam bidang ekonomi,” ujar Kardinal Turkson. Kerja sama pebisnis islam dan kristen itu misalnya telah dilaksanakan di Lebanon.

Turkson mendorong berjalannya praktik bisnis yang baik untuk kesejahteraan bersama. “Para pemimpin bisnis perlu solider dengan kaum miskin,” katanya.

Syafii Antonio antara lain mengemukakan kesamaan pandangan ekonomi kristen dan islam, yaitu filosopi menolak riba atau bunga. Demikian juga dalam memandang keserakahan di bidang ekonomi dan bisnis.

“Titik temu antara ekonomi kristen dan islam itu misalnya dapat dikembangkan untuk mengatasi konflik sudan utara dan sudan selatan,” kata Syafii.

Helen Alford mengingatkan praktik ekonomi dan bisnis yang cenderung individualistik dan kompetisi makin tidak sehat. Penganut agamayang menjalankan agama nya dirumah menjadi manusia yang berbeda ketika menjalankan bisnis. “Kompetisi perlu dilaksanakan dengan tidak melupakan kerja sama. Kompetisi tanpa kerja sama berbahaya. Kerja sama adalah fundamental. Kita perlu tumbuh bersama,” katanya.

Tradisi keagamaan, lanjut Helen, seharusnya dapat memberi jawaban atas krisis etika bisnis global ini.

Halim Alamsyah memaparkan konsep etika bisnis dalam ekonomi syariah di Indonesia. Etika bisnis itu bahkan diterapkan secara rinci dalam pengelolaan aset, produksi, konsumsi, distribusi, pengelolaan uang, transaksi, perbankan, dan pasar modal. “Etika bisnis islam adalah adab dan akhlak,” kata Halim.

Dalam diskusi tersebut, duta besar Indonesia untuk Italia August Parengkuan menanyakan apakah etika bisnis ini akan dituruti pelaku bisnis.

Helen dan Halim sepakat tidak semua pelaku bisnis akan menerapkan etika bisnis ini. Namun, upaya membuat petunjuk etika bisnis secara global tetap perlu dilakukan untuk diterapkan dalam praktik bisnis atau melalui pendidikan tinggi yang mengajarkan ekonomi dan bisnis.

“Salah staunya dengan mendorong peran pemerintah melalui sistem hukum untuk membuat Undang-undang mengenai etika bisnis ini,” kata Helen.

Copyright © 2019 Iqtishad Consulting
Truly Partner for Sharia Innovative Product
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perbankan dan Keuangan Syariah
All Right Reserved
IQTISHAD CONSULTING